Senin, 18 November 2013

KELUARGA SEJAHTERA MENURUT AGAMA HINDU

KELUARGA SEJAHTERA MENURUT AGAMA HINDU
Oleh : I Kadek Suwerta, S.Pd.H

Semua agama mengajarkan tentang kebajikan tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang keburukan, baik dalam menjalani kehidupan maupun dalam berkeluarga dan dalam makalah ini saya coba untuk memaparkan keluarag sejatera menurut agam Hindu
Dalam ajaran agama hindu sebuah keluarga dikatakan sejahtera juga bahagia itu dimulai dari sebuah perkawinan yang sah menurut agam hindu sehingga bisa dikatakan sebagai keluaga yang sukinah, karena cikal bakal sebuah keluarga dasarnya adalah perkawinan/perkumpualan antara wanita dan lelaki sehinggga menghasilkan katurunan dan seterusnya.
Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah.
Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”
Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya.
Untuk bisa terweujudnya keluarga yang sejahtera hendaknya hubungan suami intri itu harus dijaga sampai akhir hayat.seperti apa yang tertuang dalam Manava Dharmasastra IX. 101 dan 102  sebagai berikut
“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”
“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”.
“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”
“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain
Berdasarkan kedua sloka di atas nampak jelas bahwa agama Hindu tidak menginginkan adanya perceraian. Bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang kekal hendaknya dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri. Dengan terciptanya keluarga sejahtera juga bahagia dan kekal maka kebahagiaan yang kekal akan tercapai pula. Ini sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma sastra III. 60 , sebagai berikut:
“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,
Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”
“Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal
Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa dijadikan acuan dalam akan mengarungi kehidupan rumah tangga, agar bisa mewujudkan keluarga yang sejahtrea juga bahagia seperti apa yang menjadi tujuan agama Hindu seperti yang tertuang dalam kitab suci Weda sebelum menjelaskan lebih rinci tentang keluarga sejahtera menurut agama Hindu.

Tolok Ukur Rumah Tangga sejahtera juga bahagia (Sukhinah) Meurut Hindu
Sejahtera juga bahagia adalah suatu keadaan dimana rohani (jiwa) terbebas dari penderitaan , dimana jiwa dalam keadaan tentram dan damai (santhi). Dalam agama Hindu terciptanya kebahagiaan lahir dan bathin.  Sehinngga bisa disebut jagadhita yaitu kesejahtraan terpenuhinya segala kebutuhan lahiriah yang berupa sandang, pangan dan papan. Suatu keluarga sejahtra kalau terpenuhinya segala keperluan hidup sehari-hari dalam bentuk materi. Namun keluarga yang sejahtera ini  belum  tentu menikmati  kebahagiaan ada kalanya suatu keluarga yang sangat minim terpenuhinya keperluan materinya, tetapi menikmati kebahagiaan. Karena itulah, kesejahtraan dan kebahagiaan ini haruslah seimbang. Keseimbangan yang harmonis ini dapat menjadikan keluarga itu mantap, tentram,damai : ini berarti kebahagiaan lahir batin yang merupakan tujuan utama perkawinan itu benar-benar dapat di capai sehingga bisa dikaakan keluarga sejahtera yang sukinah
Demi terwujudnya dan terpeliharanya rumah tangga/keluarga yang sejahtera, kiranya perlulah kita menyadari dan mengetahui tentang unsur dan kreteria  rumah tangga yang menjadi tolak ukur keberhasilan didalam mewujudkan rumah tangga yang sejahtera dan juga bahagia.
Unsur  rumah tangga sejahtera dan bahagia menurut hindu :
1)         Kecintaan.  Cinta adalah dorongan yang sangat kuat sekali yang timbul dari dasar hati yang paling dalam untuk membahagiakan obyek itu sendiri, degan tidak melihat kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri obyek tersebut, dan mau menerimanya dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
2).        Kegembiraan  tidak menanggung papa dan dosa. Kegembiraan merupakan suatu harapan dalam rumah tangga.
3).        Kepuasan.       Pernyataan rasa syukur terhadap semua anugrah Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa  harus diwujudkan dengan  prilaku sehari-hari agar dapat mencapai kesempurnaan hidup dan kepuasan bathin. Dengan membangun rasa syukur terhadap hasil yang telah dicapai maka akan dapat  memberikan kepuasan " Bila dalam rumah tangga tidak dilandasi oleh Dharma maka rumah tangga akan diselimuti oleh napsu indria yang akan mengantarkan rumah tangga tersebut dalam jurang kehancuran. Dalam rumah tangga ada tiga (3 ) hal yang harus disyukuri sebagai mana termuat dalam  kitab  Canakya Nitisastra VII. 4 sbb :
Santosa trisu kartavyah
Swadare bhojane dhane          artinya :
Bersyukurlah dengan tiga hal yaitu : dengan istri sendiri, makanan yang ada dan rejeki yang diperoleh.
Manusia dalam hidup ini selalu mengembangkan keinginannya dan tidak ada manusia yang tidak punya keinginan.  Ada ingin untuk makan minum yang enak -enak, ingin kaya raya , ada yang hanya ingin nafsu sex, ada juga yang ingin selalu dekat dengan Tuhan, dll. Nafsu haus dan lapar, nafsu sex, nafsu untuk kaya tidak mungkin dipenuhi secara maksimal. Karena nafsu ibarat api semakin di siram minyak ia semakin besar . Oleh karena itu nafsu harus dikendalikan karena kalau tidak, akan dapat menimbulkan bencana.
a)        Bersyukur terhadap harta yang diperoleh sesuai dharma yang akan mampu  membangun keluarga bahagia.
b)         Bersyukur terhadap makanan yang telah disiapkan dalam rumah tangga . Makanan yang dimasak dengan tujuan menghidupi anggota keluarga  akan memberikan nilai spiritual yang sangat tinggi  karena sebelum di hidangkan  diawali dengan yajna sesa sehingga  yang memakannya akan terlepas dari papa dosa.  Sehingga seorang anggota keluarga pantang untuk menghina masakan yang dihidangkan  dalam rumah tangga . Kalau makanan siap saji yang dibeli di pasar  cara masak dan tujuan membuatnya berbeda dengan  masakan dalam rumah tangga karena tujuannya untuk bisnis.
c)         Bersyukur dengan istri sendiri. Rasa syukur disini jangan membuahkan kepuasan bathin yang akan menghindari  terjadinya perselingkuhan . Karena perselingkuhan  merupakan pengkhianatan terhadap tujuan perkawinan . Istri sering diibaratkan sebagai sungai yang hatinya selalu berliku-liku perlu mendapatkan perhatian yang khusus bagi seorang suami sehingga hatinya bisa tetap lurus dengan komitmen yang telah diikrarkan pada waktu perkawinan.
4)         Kedamaian.     Unsur kedamaian  berarti tidak adanya perasaan yang mengancam dalam hidupnya. Hidup dijaman kali yuga, ibarat ikan hidup di air yang keruh dimana pandangan terhalang oleh keruhnya air. Oleh karena itu banyak yang salah lihat sehingga temannya  yang hitam bisa dilihat kuning sehingga kehidupan temannya yang bopeng bisa dilihat tampan. Pandangan manusia dihalangi oleh gelapnya adharma yang sangat kuat pengaruhnya  dalam hidup pada jaman kali. Manawa Dharmasastra menyatakan dharma pada jaman kali hanya berkaki satu sedang adharma berkaki tiga. Kekuatan adharma  itulah yang menjadi penghalang sehingga orang sering keliru melihat kebenaran. Banyak yang benar dipandang sebagai ketidak benaran , demikian juga sebaliknya. Terhalangnya hati nurani menyebabkan munculnya kekuasaan Panca klesa yaitu : kegelapan, egois, hawa nafsu, kebencian, takut akan kematian.  Akibatnya banyak manusia saling bermusuhan  dan terkadang musuh sering kelihatannya seperti teman.
Dalam Canakya Nitisastra  IV. 10  menyebutkan ada tiga hal yang menyejukkan hati yang menjadi andalan untuk membangun kedamaian dan kesejukan hati.
Samsara tapa dagdhanam
Trayo  sisranti hetavah
Apatyah ca kalatran ca
Satam sanggatir ewa ca                      
artinya:
Dalam menghadapi kedukaan dan panasnya kehidupan duniawi  ada tiga hal yang menyebabkan hati orang menjadi damai  yaitu anak, isrti dan pergaulan dengan orang suci..
Anak adalah merupakan curahan kasih sayang, lebih-lebih anak yang patuh  dan berbakti kepada orang tua. Meskipun marah orang tuanya kepada anaknya sebenarnya bukanlah karena kebencian tetapi keinginan orang tua menjadikan anaknya yang sukses. Norana sih manglwehane atanaya yang artinya tidak ada cinta kasih yang melebihi kasih orang tua kepada anaknya. Carilah kedamaian hati dalam dinamika kehidupan bersama anak dan istri/suami . Dinamika inilah yang akan mewujudkan  kedamaian  rumah tangga.
5).        Ketentraman.  Ketentraman dalam keluarga akan didapat apabila anggota keluarga memiliki kesehatan sosial. Kemampuan untuk melakukan hubungan sosial dengan tetangga kiri kanan belakang dan depan merupakan suatu kebutuhan setiap keluarga. Semuanya ini didasarkan oleh ajaran Dharma dengan berpegang pada pikiran, perkataan dan laksana yang baik maka akan dapat melakukan kerja sama dengan baik.  Hubungan sosial yang baik akan mempengaruhi perasaan setiap pribadi akan mendapat perlindungan kalau ada sesuatu yang akan mencelakakan rumah tangganya . Hubungan kerja sama dalam ajaran agama hindu mutlak ada dalam rumah tangga sehingga sesama akan merasakan saling menjaga dan melindungi. Dalam kitab Niti Sastra dilukiskan bagi orang yang mau kerja sama seperti singa dan hutan.  Keduanya memiliki kehidupan yang berbeda tetapi mampu bekerja sama. Singa menjaga hutan, akan tetapi ia selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa akan meninggalkan hutan. Maka hutan akan dirusak dan dibinasakan oleh orang, pohon-pohon ditebangi , maka singa akan lari sembuyi didalam jurang ditengah ladang, yang akhirnya diserbu dan binasakan orang.
Bertolak dari seloka ini maka setiap rumah tangga harus sehat sosial yang ditandai dengan kemauan bekerja sama yang dilandasi oleh ajaran Tat Twam Asi  sehingga kalau ada kesalahan ucapan dan perbuatan maka saling memaafkan, sehingga rasa permusuhan tidak ada dalam hati.  Disamping itu juga ketaatan terhadap norma hukum sehingga bhatin terasa tentram akan muncul  sendirinya karena ada rasa saling melindungi .
Selain kelima hal diatas yang menjadi tolak ukur sebuah keluarga yang dikatakan sejahtera menurut hindu ada beberapa hal juga yang perlu diperhatikan.
1.      Melakukan penghematan
Pepatah mengatakan bahwa hemat itu pangkaln kaya, jadi inilah yang mesti dilkukan untuk bisa menjadikan sebuah keluarga sebagai keluarga yang bahagia,dengat menghemat uang yang kita peroleh kita bisa mengantisipasi hal-hal/ kemungkinan terburuk yang tidak terduga dalam kehidupan, dengan selalu mengucap syukur kepada Hyang Widhi atas uang yang kita peroleh, seperti yang disabdakah Hyang Widhi dalam Atharvaveda mandalan XIX,Sukta 8,Sloka 2.
Yogam Pra Padye Ksmam Ca
Artinya
Semoga kami memperoleh uang dan melestarikannya (menghematkannya)
Selain itu hal penting yang harus diperhatikan,bahwa kekayaan yang kita peroleh musti berdasarkan/berlandaskan dharma.
2.      Mengucap syukur kepada Tuhan dan harta yang diperoleh harus tanpa dosa.
          Bersyukurlah kepada Tuhan dengan apa yang telah kita peroleh, dan jangan melakukan suatu pekerjaan dengan melakaukan dosa, karena itu Akan menjadi karma buat kita,baik sekarang maupun diakan dating.dengan selalu mengucap syukur kita akan selalu mendpat berkah dari Hyang Widhi, seperti yang dinyatakan dalam Rg Veda.10.37.11
Tad asme sam yor arapo dadhatana
Artinya
Ya tuhan berkahilah kami dengan kebahagian dan kesejahteraan(yang diperoleh) tanpa dosa





3.      Usahakan agar kita terbebas dari hutang
         Sejak lahir kita tel;ah terikat oleh hutang, jadi jika biasa usahakan untuk tidak telalu banyak terikat akan hutang untuk biasa mewujudkan kesejahteraan dalam lingkungan rumah tannga seperti apa yang dinyatakan dalam  atharwaveda VI.117.3.
Arna Asmin Arnah Prasmin,Triye Loke Arnah Syama
ArTinya
 hendaknya kami bebas dari hutang didunia ini, didunia yang lain dan didunia berikutnya nanti. 
       jadi kita sendirilah yang musti bisa menentukan untuk kita tidak terus menerus terikat akan hutang hidup di jaman kali yuga untuk bisa menjadikan sebuah keluarga yang ssejahtera, karena jika kita terus menerus terikat oleh utang maka sangat tidak biasa dikatakan sebuah keluarga sebagai keluarga yang sejahtera karena ada beban fikiran yang tertanam dalam dirinya sehinga membuat ketidak nyamanan dalam hidup
dan dapat disimpulkan keluarga yang sejahtera merupakan keluarga yang bisa menjalankan ajaran catur purusaartha,mendapatkan segala sesuatu didunia ini dengan landasan Dharma,seperti apa yang dinyatakan dalam cantiparwa
prabhawar thaya bhutanam
dharma prawacana krtam
yah syat prabhawacam yuktah
sa dharma iti nicacayah
artinya
segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan memelihara semua mahluk,itulah disebut dharma (agama), segala sesuatu yang membawa kesentosaan dunia itulah dharma yang sebenarnya

Tujuan perkawinan dalam Hindu ialah menjadikan kelarganya sejahtera juga bahagia (SUKHINAH) Sesuai dengan ajaran veda.


Disampaikan dalam penyuluhan keluarga seahtera di waebakul, kabupaten sumba tengah prov NTT.


Suwerta86.blogspot.com


1 komentar:

  1. Super bnget gan software sadap berguna bnget ama ane yg lgi butuhin, the best pkoknya www.peretas-ku.blogspot.com jasa jual beli software hack whatsapp ampuh terjamin privasi jga hrga ama kwalitas gak mngecewakan!!!

    BalasHapus