Berdasarkan buku pegangan
guru kemendikbud 2013, Terdapat beberapa model-model pembelajaran yang dapat
membuat peserta didik aktif dan dapat dijadikan acuan pengajaran
keterampilan menggunakan pendekatan ilmiah di kelas pada kurikulum 2013, antara
lain seperti berikut:
1. Model Pembelajaran
Kolaborasi
Pembelajaran kolaborasi (collaboration learning) menempatkan
peserta didik dalam kelompok kecil dan memberinya tugas di mana mereka saling
membantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan kelompok. Dukungan sejawat,
keragaman pandangan, pengetahuan dan keahlian sangat membantu mewujudkan
belajar kolaboratif. Metode yang dapat diterapkan antara lain mencari
informasi, proyek, kartu sortir, turnamen, tim quiz.
2. Model Pembelajaran
Individual
Pembelajaran individu
(individual learning) memberikan kesempatan kepada peserta didik secara mandiri
untuk dapat berkembang dengan baik sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Metode yang dapat diterapkan antara lain tugas mandiri, penilaian diri,
portofolio, galeri proses.
3. Model Pembelajaran Teman
Sebaya
Beberapa ahli percaya bahwa
satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik
mampu mengajarkan kepada peserta didik lain. Mengajar teman sebaya (peer
learning) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari sesuatu
dengan baik. Pada waktu yang sama, ia menjadi narasumber bagi temannya. Metode
yang dapat diterapkan antara lain: pertukaran dari kelompok ke kelompok,
belajar melalui jigso (jigsaw), studi kasus dan proyek, pembacaan berita,
penggunaan lembar kerja, dll.
4. Model Pembelajaran Sikap
Aktivitas belajar afektif
(affective learning) membantu peserta didik untuk menguji perasaan, nilai, dan
sikap-sikapnya. Strategi yang dikembangkan dalam model pembelajaran ini didesain
untuk menumbuhkan kesadaran akan perasaan, nilai dan sikap peserta didik.
Metode yang dapat diterapkan antara lain: mengamati sebuah alat bekerja atau
bahan dipergunakan, penilaian diri
dan teman, demonstrasi, mengenal diri sendiri, posisi penasihat.
dan teman, demonstrasi, mengenal diri sendiri, posisi penasihat.
5. Model Pembelajaran
Bermain
Permainan (game) sangat
berguna untuk membentuk kesan dramatis yang jarang peserta didik lupakan. Humor
atau kejenakaan merupakan pintu pembuka simpul-simpul kreativitas, dengan
latihan lucu, tertawa, tersenyum peserta didik akan mudah menyerap pengetahuan
yang diberikan. Permainan akan membangkitkan energi dan keterlibatan belajar
peserta didik. Metode
yang dapat diterapkan antara lain: tebak gambar, tebak kata, tebak benda dengan stiker yang ditempel dipunggung lawan, teka-teki, sosio drama, dan bermain peran.
yang dapat diterapkan antara lain: tebak gambar, tebak kata, tebak benda dengan stiker yang ditempel dipunggung lawan, teka-teki, sosio drama, dan bermain peran.
6. Model Pembelajaran
Kelompok
Model pembelajaran kelompok
(cooperative learning) sering digunakan pada setiap kegiatan belajar-mengajar
karena selain hemat waktu juga efektif, apalagi jika metode yang diterapkan
sangat memadai untuk perkembangan peserta didik. Metode yang dapat diterapkan
antara lain proyek kelompok, diskusi terbuka, bermain peran.
7. Model Pembelajaran
Mandiri
Model Pembelajaran mandiri
(independent learning) peserta didik belajar atas dasar kemauan sendiri dengan
mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki dengan memfokuskan dan merefleksikan
keinginan. Teknik yang dapat diterapkan antara lain apresiasi-tanggapan, asumsi
presumsi, visualisasi mimpi atau imajinasi, hingga cakap memperlakukan
alat/bahan berdasarkan temuan sendiri atau modifikasi dan imitasi,
refleksi karya, melalui kontrak belajar, maupun terstruktur berdasarkan
tugas yang diberikan (inquiry, discovery,recovery).
8. Model Pembelajaran
Multimodel
Pembelajaran multimodel
dilakukan dengan maksud akan mendapatkan hasil yang optimal dibandingkan dengan
hanya satu model. Metode yang dikembangkan dalam pembelajaran ini adalah
proyek, modifikasi, simulasi, interaktif, elaboratif, partisipatif, magang
(cooperative study), integratif, produksi, demonstrasi, imitasi, eksperiensial,
kolaboratif.
Dari artikel tersebut saya buat intisarinya dalam artikel ini.
Setidaknya ada 3 model pembelajaran yang cocok diterapkan pada kurikulum 2013.
Di antaranya sebagai berikut.
1. Discovery Learning
Model pembelajaran discovery
learning dilakukan dengan
beberapa langkah pembelajaran yaitu persiapan, pelaksanaan (kegiatan inti), dan
penilaian.
Pada kegiatan inti yaitu pelaksanaan pembelajaran model
pembelajaran discovery
learning dilakukan hal-hal
berikut.
1) pemberian stimulasi/rangsangan,
2) pernyataan/identifikasi
masalah,
3) pengumpulan data,
4) pengolahan data,
5) verifikasi/pembuktian dan
6) menarik
kesimpulan/generalisasi.
Tahapan penilaian tentu dilakukan model authentic assesment
2. Problem Based Learning
Problem based learning adalah, metode mengajar yang menggunakan masalah yang nyata,
melalui masalah itu, terjadilah proses belajar siswa. Mereka akan belajar
berbagai hal termasuk ingatan (kognitif) maupun keterampilan berpikir kritis.
Problem based learning adalah metode mengajar dengan fokus
pemecahan masalah yang nyata, kerja kelompok, umpan balik, diskusi, dan laporan
akhir.
3. Project Based Learning
Nah, inilah model yang sedang jadi bahasan kita di bulan ini.
Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang
menggunakan proyek/kegiatan sebagai media.
Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian,
interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil
belajar.
Demikian intisari dari artikel tentang model-model pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik kurikulum 2013. Model pembelajaran merupakan
hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh guru. Oleh karena guru
merupakan ujung tombak pelaksana pembelajaran di kelas. Di sanalah, kreativitas
guru sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.
Selengkapnya dapat dibaca di sumber aslinya di link berikut
Pendekatan
Pembelajaran
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran
yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
Strategi
pembelajaran.
Dari pendekatan
pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalamStrategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin
Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi
hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan
mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way)
yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang
akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan
patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan
(achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur
tersebut adalah:
1.
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni
perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang
dipandang paling efektif.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur,
metode dan teknik pembelajaran.
4.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan
atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya,
2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaranadalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya,
dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa
dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual
tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran.
Dilihat dari strateginya,
pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1)exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam
Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya,
strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan
strategi pembelajaran deduktif.Strategi
pembelajaran sifatnya masih konseptual dan
untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain,
strategi merupakan “aplan of operation achieving something” sedangkan metode
adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya
(2008).
Metode pembelajaran
Jadi, metode
pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1)
ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6)
pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan
sebagainya.
Teknik Pembelajaran
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik
pembelajaran.Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat
diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu
metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah
pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik
tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode
ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan
penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang
siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal
ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang
sama.
Taktik Pembelajaran.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya
seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang
sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode
ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya.
Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena
memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi
kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu
elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran
akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan
kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam
taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Model Pembelajaran
Apabila antara pendekatan, strategi,
metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu
kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi
Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok
model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan
informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah
laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran
tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing
istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut,
dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain
pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola
umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran
lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar
tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan
dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe
atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern,
dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda
dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang
akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah
konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai
dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan
tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki
keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang
efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran
yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini
banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang
untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan)
sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru
(calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang
merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana
dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif
mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang
khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada
gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan,
yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
==========
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin
Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah).
Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan,
Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
MACAM-MACAM PENDEKATAN
DALAM PEMBELAJARAN
1. SCL (“Student-centred
learning)
“Student-centred learning or
student-centered learning is
an approach to education focusing on the needs of the students, rather than
those of others involved in the educational process, such as teachers and
administrators” (Wikipedia, 2006). Lea, Stephenson,
dan Troy (2003 dalam O’Neill &McMahon, 2005) mendefinisikan SCL secara
lebih luas yaitu bahwa SCL mencakup ketergantungan terhadap belajar aktif,
penekanan terhadap belajar secara mendalam, pemahaman, meningkatnya tanggungjawab
di pihak siswa, meningkatnya perasaan otonomi pada pembelajar, saling
ketergantungan antara guru dan siswa. SCL lebih merupakan suatu pendekatan
pembelajaran yang refleksif baik bagi pihak siswa maupunguru.Dalam pendekatan SCL, pembelajar memiliki tanggung
jawab penuh atas kegiatan belajarnya, terutama dalam bentuk keterlibatan aktif
dan partisipasi siswa. Hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya
adalah setara, yang tercermin dalam bentuk kerja sama dalam kelompok untuk
menyelesaikan suatu tugas belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang
mendorong perkembangan siswa, dan bukan merupakan satu-satunya sumber belajar.
Keaktifan siswa telah dilibatkan sejak awal dalam bentuk disain belajar yang
memperhitungkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar siswa yang
telah didapatkan sebelumnya. Contoh pendekatan SCL
2. Active Learning
Pembelajaran aktif adalah segala
bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses
pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa
dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut, sehingga semua siswa dapat
mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang
mereka miliki.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran
aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1)
Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar
melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap
topik atau permasalahan yang dibahas,
2)
Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan
sesuatu yang berkaitan dengan materi pembelajaran,
3)
Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi
pelajaran,
4)
Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan
evaluasi,
5)
Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Contohnya kita bisa lihat pada salah
satu teknik pembelajaran aktif yaitu Exam questions writing :
Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi pelajaran tidak hanya
diperolehdengan memberikan ujian atau tes. Meminta setiap siswa untuk membuat
soal ujianatau tes yang baik dapat meningkatkan kemampuan siswa mencerna materi
pelajaranyang telah diberikan sebelumnya. Pengajar secara langsung bisa
membahas dan memberikomentar atas beberapa soal yang dibuat oleh siswa di depan
kelas dan/ataumemberikan umpan balik kemudian.
3. Constructivism
Pendekatan Constructivisme merupakan
pendekatan yang menekankan pentingnya siswa membangaun sendiri pengetahuan
mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan berfokus
pada pembelajaran secara mendalam dengan pengalaman yang relevan, materi
pembelajaran terintegrasi, dan disusun sendiri oleh siswa.
Contohnya: Guru memberikan data
mentah dan materi-materi yang interaktif, setelah itu mengajukan pertanyaan
terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon,
sehingga siswa terdorong berpikir tingkat tinggi dan terlibat secara aktif dalam
dialog atau diskusi dengan guru dan siswa
4. Contextual Teaching and
Learning
Merupakan suatu pendekatan yang
membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan
memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara dan tenaga kerja. CTL
menekankan pada berfikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin
akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensitesisan informasi dan data dari
berbagai sumber titik pandang.
Contohnya: membantu para siswa dalam
belajar bagaimana memonitor belajar mereka sendiri. CTL ini sesuai dengan
ungkapan: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan
mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali.
5. Cooperative Learning
Pendekatan yang bercirikan pada
struktur tugas, struktur tujuan dan penghargaan (reward). Dalam penerapan
pembelajaran kooperatif ini dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi
pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya pada model
pembelajaran Think-Pair-Share (TPS),
guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, guru
meminta anak didik berpasangan untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya
pada tahap pertama. Setelah itu guru meminta kepada pasangan untuk berbagi ide,
informasi, pengetahuan tentang apa yang telah didiskusikannya.
6. Creative Learning
Pembelajaran kreatif adalah kemampuan
untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal
yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru.
Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan.
Dirancang untuk mensimulasikan imajinasi. Kreatifitas adalah sebagai kemampuan
(berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan
baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang
menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan
menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Contohnya: guru kreatif dalam variasi
metode mengajar dan membuat alat peraga, siswa juga diajak dan diberi
kesempatan untuk merancang/membuat sesuatu serta menuliskan ide atau
gagasannya.
7. Inquiry dan Discovery
Kata kunci pendekatan inquiry adalah menemukan sendiri, yaitu
pendekatan yang pembelajarannya mengarahkan anak didik untuk menemukan
pengetahuan, ide, dan informasi melalui usaha sendiri dengan menggunakan
langkah-langkah metode ilmiah. Sedangkan pendekatan discovery hampir sama dengan inquiry, tetapi anak
menemukan sendiri dari materi yang telah diberikan kepada mereka sebelumnya.
Contoh: inquiry discovery dengan pembelajaran terbimbing
adalah sebagai berikut (1) guru menentukan tujuan yang akan dipelajari
oleh siswa dan memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penernuan; (2)
Menentukan lembar pengamatan data untuk siswa; (3) Menyiapkan alat dan bahan
secara lengkap; (4) Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara
individu atau secara berkelompok; (5) Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan
dikerjakan oleh siswa.
8. Problem Solving
Merupakan pendekatan yang mengarahkan
atau melatih anak didik untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu atau
bidang studi yang dipelajari.
Contohnya guru memberikan sebuah
masalah yang akan diselesaikan, lalu siswa diminta untuk memahami masalah
terlebih dahulu, setelah dipahami masalah itu dirumuskan, mengajukan beberapa
alternative pemecahan atau solusi, terakhir siswa memilih solusi yang lebih
tepat sehingga masalah dapat diselesaikan.
9. Problem Based Learning
Problem Based
Learning (pembelajaran berbasis masalah) adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi
siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah,
serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi
pelajaran.
Contohnya: seorang
guru meorientasikan anak didik kepada masalah, setelah itu mengorganisasikan
anak didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok,
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah tersebut.
10. Joyful Learning
Pendekatan joyful learning merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang
mendukung pengembangan berpikir kreatif dan menciptaan suasana belajar yang
menyenangkan.
Contohnya: pendekatan joyful leaning pada materi ekosistem, sebagai
berikut:
1) Kebermaknaan;
Pemahaman akan meningkat bila informasi baru dengan gagasan dan pengetahuan
yang telah dikuasai oleh siswa. Khususnya, istilah dan konsep sering sulit
dipahami. Pemahaman tersebut perlu digali melalui pengalaman siswa itu sendiri.
2) Penguatan; terdiri
atas pengulangan oleh guru dan latihan oleh siswa. Pengulangan tersebut dan
latihan dapat menanggulangi proses lupa. Dalam pendekatan joyful learning, penguatan merupakan yang
harus diperhatikan.
3) Umpan balik; kegiatan
belajar akan efektif bila siswa menerima dengan cepat tentang hasil-hasil tugas
belajar tersebut. Umpan balik sederhana, misalnya koreksi jawaban siswa atas
pertanyaan guru selama pelajaran berlangsung, atau koreksi pekerjaan siswa.
11. Life Skills Based Learning
Pendekatan life skill adalah pendekatan yang memberikan
bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik
tentang nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan dan berguna bagi perkembangan
kehidupan peserta didik.
Contohnya: Dalam mata pelajaran Sel,
guru menjelaskan pengertian tentang sel, peserta didik diharapkan mampu
memaknai kinerja sel yang banyak walaupun ukurannya sangat kecil sehingga
peserta didik bisa lebih memaknai hidupnya dengan hal-hal yang baik untuk
perkembangannya.
12. IESQ Based Learning
Pendekatan dalam pembelajaran yang
menyeimbangkan 3 kecerdasan yaitu Intelektual (I), Emotional (E),
dan Spiritual (S) untuk perkembangan peserta didik.
Contoh Dalam menjelaskan simbiosis
dalam ekosistem, selain guru menjelaskan tentang materi simbiosis, hendaknya
guru bisa memicu emosi dan spiritual peserta didik untuk mengaplikasikan ilmu
yang telah diperolehnya. Pada simbiosis mutualisme contohnya, makhluk hidup
tidak bisa hidup sendiri, sehingga peserta didik bisa menerapakan kerjasama dan
saling menolong antar sesama.
13. Hard and Soft Skills Based
Learning
Pendekatan yang menggabungkan antara
tampilan, pengetahuan, fisik (Hard skills) dan keterampilan seseorang dengan
orang lain/ termasuk dengan dirinya (Soft skills).
Atribut soft skills meliputi,
(1) nilai yang dianut, (2) motivasi, (3) perilaku, (4) kebiasaan, (5) karakter.
Contohnya: seorang peserta didik
mendapatkan ilmu dari gurunya tentang pembentukan zigot. Nilai yang bisa
diambil disana yaitu memaknai arti dari perjuangan banyak sperma yang telah
berjuang untuk membuahi ovum tetapi hanya 1 sperma yang berhasil. Dari proses
itu saja, kita yang telah menikmati hidup ini, hendaknya bersyukur karena kita
adalah orang yang terpilih, jadi kenapa kadang kita meragukan kemampuan yang
kita miliki? Hal itu bisa menjadi motivasi untuk
selalu mengasah diri menjadi yang terbaik. Ketika ada motivasi, kita harus aplikasikan
dalam prilaku.
Seseorang yang sudah memiliki prilaku yang baik, dalam kehidupan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan
itu yang akan menjadi karakter.